Selasa, 26 Februari 2019

Paket Soal Untuk Ujian Praktik Ilmu Tajwid tiap Level



Gb. 1
Tausiah

Paket soal ujian praktik Ilmu Tajwid
Level 1 download!
Level 2 download di sini!
Level 3 silahkan download!
Bahan ajar Kaidah Hukum Tajwid
Level 1 dan Level 2
AT-TAJWID
(التجويد)

A.    ILMU TAJWID
Ilmu tajwid adalah pengetahuan tentang kaedah serta cara-cara membaca al-quran dengan sebaik-baiknya.
Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan al-quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut ) dari kesalahan membaca
Hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah, sedang membaca al-quran dengan ilmu tajwid hukumnya fardhu ain



BAB I
HAL NUN MATI DAN TANWIN

Nun sukun( نْ ) 
Tanwin  )  _ً_ٍ_ٌ__ )
Hukum Nun sukun ada lima:
1.    Idh-har Halqi (  (  ِاظْهَارُ حَلْقِى adalah apabila nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi yang enam yaitu : ء ه ح خ ع غ   cara membacanya harus terang dan jelas sebab bertemu dengan huruf halqi

Contoh: مَنْ آمَنَ. مِنْهُ . غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ . سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ.
Keterangan :
Idh-har: menerangkan atau menjelaskan
Halqi artinya : kerongkongan
Dinamakan huruf halqi karena tempat keuar hurufnya di mulut dari kerongkongan
2.        Id-gham Bighunnah  (   إِدْغَامُ ِبَغُنَّة  ) adalah  apabila Nun sukun dasn tanwin bertemu dengan salah satu dari pada satu huruf   binghunnah yang empat yaitu:  ى ن م و  
Cara membacanya harus di masukkan atau di tasydidkan ke dalam salah satu haruf yang empat dengan suara mendengung kecuali dalam satu kalimat maka ini disebut  Idh-har wajib contohnya: صِنْوَانُ. دُنْيَا . بُنْيَانٌ
Contoh : . مَنْ مَنَعَ. مَنْ يَقَوْلُ مِنْ وَلِىٍّ وَلاَ نَصِيْر    مِنْ نُوْرٍ
Keterangan :
Id-gham artinya: memasukkan atau mentasydidkan
Bi-ghunnah artinya: dengan mendengung

3.    Id-gham Bila-ghunnah (  إِدْغَامُ بِلاَغُنَّةِ    ) adalah apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf (  ل  ) dan ( ر  )
Contoh:  مَنْ لَمْ    dibaca  مَلَّمْ 
                  : مِنْ َربِهِمْ    dibaca   مِنْ َرِّبهِمْ
                  :  وَلَكِنْ لاَ َيعْلَمُوْنَ  dibaca  وَلَكَنْ لاّ يَعْلَمُوْنَ
4.    Iqlab (إقْلاَبُ ) adalah apabila Nun sukun dan tanwin bertemu dengan huruf Ba’( ب  )
Cara membacanya dibalik  atau di jadikan mim ( م )
Contoh: سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ. كِرَامٌ بَرَرَةٌ
Keterangan :
Iqlab artinya: membalik atau ditukar

5.    Ikhfa haqiqi (إخْفَاءُ حَقِيْقِى  ) adalah apabila Nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf Ikhfa yang 15 yakni:
د ج ت ث ك ق ف ظ ط ش س ز ذ
Cara membacanya : samar-samar antara Idh-har  (  (  ِاظْهَارُ  dan Id-Gham ( إِدْغَامُ ) artinya: harus terang, tetapi di sambung dengan huruf yang lain di mukanya dengan mendengung.
Contoh : مِنْ جُوْعٍ . يَنْطِقُ . أَنْدَادًا . مِنْكُمْ . أَنْفُسُكُمْ .


BAB 2
HAL BACAAN PANJANG ATAU MAD
 ( مَدُّ )

      Mad thabi’e ( مَدُّ طَبِيْعِي ) adalah apabila ada:
Alif ( ا ) sesudah fathah ( َ  ) atau yaa’ sukun ( ىْ )  sesudah kasroh ( ِ  ) atau wau sukun ( وْ )  sesudah dhommah ( ُ )
Cara membacanya : harus panjang sepanjang dua harokat ( dua gerakan huruf ) atau disebut satu alif
Umpamanya: قُوْلُوْا . فِيْهِ . مَالَ . نُوْحِيْهَا .
Keterangan :
Mad artinya : panjang
Thabi’i artinya : biasa

Materi tambahan Level 2 :


BAB 3
MAD FAR'IY
(  ّفَرْعِيمَدُّ  )
1.    Mad Wajib Muttashil ( مَدُّ وَاجِبْ مُتَّصِلُ ) adalah apabila ada mad thabi’I bertemu dengan hamzah ( ء ) di dalam satu kata ( kalimat) cara membacanya : wajib panjang 5 harakat atau dua setengah kalimat mad thabi’I atau dua setengah alif
 Umpamanya : سَوآءٌ . جِئَ . سُوْءَ . جَاءَ . سَاءَ . وَرَاءَ
 Keterangan: 
 Muttashill artinya: bersambung

2.    Mad Jaiz munfashil ( مَدُّ جَائِزُ مُنْفَصِلُ ) adalah apabila ada mad thabi’i bertemu dengan hamzah ( ء ) tetapi  hamzah itu di lain kalimat
Cara membacanya: boleh dipanjangkan seperti mad thabi’i akan tetapi seperti mad wajib muttashil lebih baik
Umpamanya: وَلاَ أَنْتُمْ . ِبَمَا أُنْزِلَ . قُوْلًوا أَنْفُسَكُمْ . فِي أَنْفُسِكُم
Keterangan:
Jaiz artinya: boleh ( dibolehkan )
Munfashil artinya : Terpisah

3.    Mad Lazim Mutsaqqal kilmi ( مَدُّ لاَزِم مُثَقَّلْ كِلْمىِ ) atau mad lazim muthawwal (مَدُّ لاَزِم مُطَوَّلُ ) adalah apabila ada mad thobi’I bertemu dengan tasydid ( --ّ-- ) di dalam satu perkataan kalimat.
Cara membacanya: harus panjang selama 3 mad thabi’I atau 6 harakat
Umpamanya: وَلاَ الضَّالِّيْنَ . الطَّامَّة . الصَّاخَةُ
Keterangan:
Lazim artinya: pasti dan wajib
Mustaqqol artinya: diberatkan
Kilmi artinya: sebangsa
Muthawwal artinya:di panjangkan
4.    Mad Lazim Mutsaqqal kilmi (مَدُّ لاَزِم مُخَفَّفْ كِلْمىِ ) adalah apabila ada mad thabi’i bertemu dengan huruf mati /sukun ( --ْ--- ) cara membacanya: seperti mad lazim muthawwal ( sepanjang 6 harakat )
Umpamanya: الآن hanya ada satu perkataan dalam surat yunus ( يونس )
5.    Mad layin ( مَدُّلَيِّنِ )  adalah apabila ada wau sukun ( وْ )  atau ya’ sukun ( ىْ ) sedang huruf yang sebelumnya itu berharakat fathah ( --َ--  )  cara membacanya sekedar lunak atau lemas


Umpamanya: ريْبٌ . خَوْفٌ . بَيْتٌ
Keterangan: 
Layin artinya: lunak
6.    Mad ‘Aridh Lissukun ( مَدُّ عَارَض لِلسُّكُوْن ) adalah apabila ada waqaf ( وَقْفٌ ) atau tempat pemberhentian membaca, sedang waqaf itu ada mad thabi’i atau mad layin
Cara membacanya ada 3 macam:
a.      Yang  lebih utama supaya dibaca panjang ( 6 harakat )
b.      Yang pertengahan dibaca 4 harakat
c.      Yang pendek yakni boleh dibaca seperti mad thabi’i yaitu dua harakat
Umpamanya: خَالِدُوْنَ . سَمِيْعٌ َبصِيْرٌ . المُحْسِنُوْنَ
Keterangan:
‘aridh artinya : yang bertemu atau yang bertentangan
 li artinya : karena
sukun artinya: mati atau berhenti

7.    Mad Shilah Qashiroh ( مَدُّ صِلِةُ قَصِيْرَةُ ) adalah apabila ada haa’dhamir ( ه ) sedang sebelumnya ada huruf hidup yang berharakat (-َ--ِ--ُ- )
Cara membacanya: harus panjang seperti mad thabi’i ( dua harakat )
Shilah artinya: hubungan
Qashirah artinya: pendek

8.    Mad Shilah Thawilah (مَدُّ صِلِةُ طَوِيْلَة ) adalah apabila ada mad shilah qashirah ( مَدُّ صِلِةُ قَصِيْرَةُ )  bertemu dengan hamzah ( ء
Cara membacanya : seperti mad jaiz munfashil
Umpamanya: مَا لَهُ أَخْلَدَهُ . عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

9.    Mad I’wadh ( مَدُّ عِوَضُ ) adalah apabila ada fathatain ( --ً-- ) yang jatuh pada waqaf  ( pemberhentian ) pada akhir kalimat
Cara membacanya: di panjangkan seperti mad thabi’i dan tidak dibaca seperti tanwin
Umpamanya:عَلِيْمًا حَكِيْمًا . سَمِيْعًا بَصِيْرًا . فَتْحًا مُبِيْنًا
Keterangan: Iwadh artinya: ganti

10. Mad Badal ( مَدُّبَدَل ) adalah apabila ada hamzah ( ء ) bertemu dengan mad ( panjang )
Cara membacanya tetap seperti mad thabi’i
Umpamanya : آخَذَهُ . إْيمَانٌ . آدَمَ
Keterangan :
Badal artinya: ganti, dinamakan mad badal karena asli hurufnya dalah hamzah sukun ( ءْ) di ganti dengan wau sukun ( وْ  ) dasn yaa’ sukun ( ىْ )
آدَمَ  aslinya  أَأْدَمُ
إْيمَانٌ asalnya إإْمَانُ
آخَذَهُ asalnya أَأْخَذَهُ

11. Mad lazim Harfi Musyabba’ ( مَدُّ لاَزِم حَرْفِ مُشَبَّع )adalah apabila pada permulaan surat Al-qur’an terdapat salah satu atau lebih dari huruf yang delapan yakni: nun ( ن ) qaff ( ق) shad ( ص ) ain ( ع ) sien ( س ) laam ( ل ) kaaf ( ك ) dan mim ( م ) yang di kumpulkan di dalam kalimat yaitu : (نقص عسلكم  )
Cara membacanya : harus dibaca panjang sepanjang 6 harakat
Umpamanya : ن  والقلم . آلم . يس
Keterangan :
Musyabba’ artinya : dikenyangkan

12. Mad lazim Harfi Mukhffaf (مَدُّ لاَزِم حَرْفىِ مُخَفَّفْ ) adalah apabila pada permulaan surat dari Al-qur’an ada huruf yang lima yaitu: haa’ ( ه ) thaa’ ( ط ) haa ( ح ) raa’ ( ر ) yang dikumpulkan dalam satu kalimat ( حَىٌّ طَهُوْرُ )
Cara membacanya: ditempatkan dengan tasydid dan mad thabi’i nya

Umpamanya : حم . آلم . يس


Mad Tamkien ( مَدُّ تَمْكِيْنُ ) adalah apabila ada yaa’ sukun ( ىْ  ) yang di dahului dengan yaa’ yang bertasydid dan yang harakatnya kasroh ( --ِ-- )
                             
13.Mad Farq (  مَدُّفَرْقِ) adalah adalah mad yang membedakan antara pertanyaan dan yang bukan, yang di dalam Al-qur’an terdapat di empat tempat
Cara membacanya:
Harus dipanjangkan untuk membedakan antara pertanyaan atau bukan
Umpamanya: آالذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمْ الأُنْثَيَيْن                                                                         
                              قُلْ آللهُ أَذِنَ لَكُمْ                                
                              آللهُ خَيْرٌ اَمْ مَا يُشْرِكُوْنَ
Keterangan : farq artinya : membedakan atau pembedaan 

LEVEL 3 :
BAB 4
HAL MIM SUKUN ( م )
Hukum membaca Mim sukun ada tiga macam :
1.    Ikhfa syafawi إِخْفَاءُ شَفَوِى ) adalah apabila mim suku bertemu dengan huruf ba’( ب )
Cara membacanya harus samar-samar di bibir dan didengungkan
Contoh: إِعْتَصِمْ بِا للهِ . وَهُمْ بِهِ دَخَلْتُمْ ِبِهنّ
2.    Id-Gham Mimi ( إِدْغَامُ ِميْمِ  ) adalah apabila mim sukun (    مْ) bertemu dengan huruf mim (    م)
Cara membacanya seperti  إِدْغَامُ مُتَمَاثِلَيْن )
      مَالَهُمْ مِّنِ اللهِ . أَمْ مِّنْ يَرْ جِوْنَ
3.    Idh-har Syafawi ( إِدْهَارُ شَفَوِى ) adalah apabila Nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf hijaiyah yang 26 selain Mim ( م ) dan ba’ ( ب ) cara membacanya yang terang di bibir dengan mulut tertentu. Dan harus lebih dijelaskan lagu apabila bertemu dengan haruf wau ( و ) dan fa’ ( ف )
Contohnya: أَنْعَمْتَ . لَهُمْ فِيْهَا . عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

BAB 5
(GHUNNAH)
HAL MIM TASYDID DAN NUN TASYDID
Mim tasydid (   م )
Nun sukun ( نْ )
     Ghunnah  غُنَّةُ ) adalah apabila adaMim tasydid dan Nun yang bertasydid maka di baca dengan mendengung
Contohnya:         النَّاسُ . الجَنَّةُ . إِنَّ . أَمَّا .

BAB 6
ID-GHAM MUTAMATSILAIN

Id-gham Mutamatsilain ( إِدْغَامُ مُتَمَاثِلَيْن ) adalah apabila ada dua huruf  yang sama (  بَ dan بْ ) sedang yang pertama sukun ( mati ) dan harakat yang kedua berharakat.
Cara membacanya : harus di masukkan ( ditasydidkan ) kepada huruf yang kedua.
Contohnya: اِضْرِبْ بِعَصَاكَ الحَجَر . اِذْ ذَهَبَ . فَمَا رَبِّحَتْ تِجَارَة
                  اِضْرِبْ بِّعَصَاكَ الحَجَرَ . اِذْذَّهَبَ . فَمَا رَبِّحَتْ تَّجَارَةٍ
Pengecualian: apabila ada dua huruf yang sama bertemu dari huruf wau sukun ( وْ ) bertemu dengan huruf wau berharokat (وِ ) dan huruf ya sukun ( ىْ ) bertemu dengan wau berharokat ( ىِ ) maka tidak di id-ghamkan / dimasukkan ( ادغام ) ke dalam huruf yang kedua, tetapi harus dibaca dengan panjang sebagaimana mestinya.
Umpamanya : اِصْبِرُوا وَصَابِرُوا . آمِنُوا وَعَمِلوُا . فيِ يَوْمِ كَانَ



BAB 7
ID-GHAM MUTAQORIBAIN
( ادْغَاُم مُتَقَارِبَيْن )
Id-Gham mutaqoribaini (ادْغَاُم مُتَقَارِبَيْنِ  ) apabila ada huruf :
Tsaa ‘ sukun ( ثْ ) bertemu dengan huruf Dzal ( ذ )
Baa’ sukun    ( بْ ) bertemu dengan huruf Mim ( م )
Qaaf sukun   ( قْ ) bertemu dengan huruf  kaaf ( ك )
Cara membacanya : harus dimasukkan /di idghamkan kedalam huruf yang kedua itu
Umpamanya:
 يَلْهَثْ ذَلِك dibaca يَلْهَذَّلِكَ
اِرْكَبْ مَعَنَا dibaca اِرْكَمَّعَنَا
أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ dibaca  أَلمَ ْنَخْلُكُّمْ

Keterangan :
Mutaqoribain artinya: dua berdekatan

BAB 8
ID-GHAM MUTAJANISAIN
اِدْغَامُ مُتَجَاِنثَيْنِ )
Id-gham mutajanisain ( اِدْغَامُ مُتَجَاِنثَيْن ) adalah apabila ada huruf :
Taa’ sukun ( تْ ) bertemu dengan huruf thaa’ ( ط )
Taa’ sukun ( تْ ) bertemu dengan huruf dal ( د )
Thaa’ sukun ( طْ ) bermemu dengan huruf taa’( ت )
Dal sukun ( د ) bertemu dengan huruf taa’ ( ت )
Laam sukun ( لْ ) bertemu dengan huruf raa’ (ر )
Dzal sukun ( ذْ ) bertemu dengan huruf Dzoo’ ( ظ )
Cara membacanya:
Dimasukkan ( di idghamkan atau di tasydidkan ) ke dalam huruf yang ke dua
 Umpamanya:
 اَمَنَتْ طَاِئفَةٌ      dibaca  أَمَنَطَّائِفَة
لَقَدْ تَابَ     dibaca  لَقَتَّابَ
بَسَطْتَ      dibaca بَسَتّ
قُلْ رَبَّ      dibaca  قُرَّبِّ
إِذْ ظَلَمُوْا     dibaca إِظْلَمُوْا
BAB 9
HAL LAAM TA’AIEF
( ال )
laam Ta’ari adalah alif dan laam  ( ال ) yang disambungkan dengan perkataan-perkataan ( nama benda ) dalam bahasa arab. Laam Ta’arif di bagi beberapa macam:
1.    Idh-qomariah  ( إِظْهَارُ قَمَرِيَةِ ) adalah apabila alif dfasn laam ( ال ) bertemu di sambungkan dengan 14 huruf berikut:  ب  ء  ه  م  ى  ق  ع  ف  ح  و  ك  ج  ح  ع
yang dikumpulkan dalam kalimat satu kalimat  ( أَبْغِ حَجَّكَ وَخَف عَقَيْمَةُ )
cara membacanya harus terang
contoh :  الأَنْعَامُ . البِرُّ . الغَمَامُ . الحَمِيْمُ . الجَنَّةُ 
KETERANGAN :
Qomar artinya                   : bulan
Qomariah artinya              : sebangsa bulan
1.    Id-Gham Syamsyah ( إِدْغَامُ شَمْشِيَّةِ ) adalah apabila alif dan laam ( ال ) bertemu dengan salah satu huruf yang 14 yakni selain huruf qomariah yaitu:  ت . ث . د . ذ . ر . س. ش. ص . ض . ط . ظ .  ل . ن
Cara membacanya : harus dimasukkan kedalam salah satu huruf yang 14 tersebut.
Contohnya: السَّلاَمُ . التَّوْبَةُ . الرَّحِيْمُ . الشَّمْسُ . بِالصَّبْرِ
Keterangan :
Syam artinya: Matahari
Syamsyah artinya: sebangsa matahari

BAB 10
HAL LAAM TEBAL DAN TIPIS
1.    Laam Tebal ( مُفَخَّمَة )  adalah apabila Laam  ( ل )  dalam perkataan Allah ( الله ) di dahului oleh fathah atau dhommah maka haruslah dibaca tebal
Umpanya :  شَهَدَ اللهُ . رَسُوْلُ اللهِ . اللَّهُمَّ  
2.    Laam Tipis ( مُرَقَّقَة ) apabila laam dalam perkataan Allah ( الله ) didahului oleh kasroh  dan semua laam yang tidak di dalam perkataan Allah, maka harus dibaca tipis. Umpamanya: بِسْمِ اللهِ . بِاللهِ . وَلَهُ الحَمْدُ . الذِّى . وَعَلَّمَ
BAB 11
HAL MEMBACA RA’
( ر )
Cara membaca raa’ ada itu tiga macam :
1.    yang di tebalkan ( مُفَخَّمَة ) yaitu :
a.      raa’ Fathah ( رَ ) contoh : رَبَّنَا
b.      raa’ dhammah ( رُ ) contoh : حَرَّمَ
c.      raa’ sukun ( رْ ) sedang huruf sebelumnya berbaris fathah ( --َ-- ) atau dhommah  (--ُ-- ) contoh :  مَرْضِيَّةُ
d.     raa’ sukun ( رْ ) sebelum kasroh ( --ِ--) tetapi kasroh itu bukan asli dari asal perkataan contoh :  اِرْجِعُوْا . اِرْحَمُ
e.      raa’ sukun ( رْ ) huruf sebelumnya juga kasroh yang asli ( -ِ- ) tetapi sesudah raa’ itu ada salah satu dari huruf isti’laa’ ( اِسْتِعْلاَء ) yang tujuh yaitu : kha’ ( خ ) shod ( ص ) ghoin ( غ ) dhod ( ض ) tha’ ( ط )  dan dzo’ ( ظ ) yang tidak berharakah huruf isti’laa; dalam satu kalimat bunyinya ( خُصَّ ضَغْطٍ قِظ )
contohnya: قِرْطَاسٌ . مِرْ صَادٌ . فِرْقَةٌ
2.    yang tipis ( مُرَقَّثَة ) yaitu:
a.        apabila raa’ tadi berharkat kasroh (  رِ ) baik pun dalam permulaan perkataan atau pertengahan atau penghabisan baik pada kata kerja ( فِعْلٌ ) atau kata benda ( اسْمٌ) contohnya : رِزْقٌ . أَرِنَا . الفَجْرُ
b.      apabila sebelum raa’ ada yaa’ sukun ( ىْ ) contoh: خَيْرٌ .  قَدِيْر
c.       apabila sebelum raa’ sukun  ( رْ ) itu huruf yang berharakat kasroh yang asli tetapi yang sesudahnya bukan huruf isti’laa’ ( اِسْتِعْلاَءُ )
contohnyaأَنْذِرْهُمْ . فِرْ عَوْنَ:
3.    yang boleh di baca tebal dan tipis yaitu : raa’ sukun ( رْ ) dan huruf yang sebelumnya berharakat kasroh ( -ِ- ) sesudahnya ada salah satu huruf isti’laa’ yang berharakat kasroh ( -ِ- )
contohnya: مِنْ عِرْضِهِ . بِحِرْصٍ


BAB 12
HAL QAQALAH
( قَلْقَلَةُ )

1.    Qalqalah shughra (قَلْقَلَةُ صُغَرَى ) adalah apabila ada salah satu huruf : ( ب ج د ط ق  ) yang sukun ( mati ) dan matinya dari asal kata-kata dalam bahasa arab. Cara membacanya : harus bergerak dan berbunyi seperti membalik
Contoh : يَقْطَعُوْنَ . إِبْرَاهِيْمَ . نَجْعَل
2.    Qalqalah kubra (قَلْقَلَةُ كٌبْرَى )  adalah apabila huruf qalqolah yang lima tersebut mati di sebabkan waqof ( berhenti ) atau titik koma cara membacanya: lebih jelas dan lebih berkumandang
Contoh : مِنْ خِلاَقْ . اُولوُ الأَلْبَابْ . سَوَاءُ الصِّراَطْ
Keterangan :
Qalqalah artinya : getaran suara
Sughra artinya : yang lebih kecil
Kubra artinya : yang lebih besar


     
     
                                   





Minggu, 24 Februari 2019

Batasan Materi, Teknik dan Instrument Penilaian Ujian Praktik CB PTS Genap 2019

Jadwal Sertifikasi Al Qur'an Jilid 3 4-6 maret 20119 / 27-29-Jumadil Akhir 1440 H

Update ke-3 level dan peserta sertifikasi al Qur'an

Lampiran Teknik dan Instrument Penilaian

Suasana Asri

A.    Batasan Materi CB dan Tahsin Tahfiz al Qur’an

Level I
Kelas I’dad dan Tajwidy
1.      Mampu membaca al Qur’an dengan lancar, baik dan benar.
2.      Mampu menulis surat al Fatihah dengan baik dan benar.

3.     Mampu mendemonstrasikan hafalan Qur’an Surat berikut :
-          al Nas,
-          al Falq,
-          al Ikhlas,
-          al Lahb,
-          al Nasr,
-          al Kafirun,
-          al Kautsar,
-          al Maun,
-          al Qurasy,
-          al Fiil,
-          al Humazah,
-          al ‘Ashr dan
-          al Takatsur
dengan lancer, baik dan benar.
4.      Mampu mendeskripsikan kaidah hukum bacaan nun mati dan tanwin serta mad asli.
5.      Mampu menyebutkan contoh hukum bacaan nun mati dan tanwin serta mad asli
6.      Mampu menentukan hukum bacaan nun mati dan tanwin serta mad asli.
7.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Hadis tentang berikut :
-          Akibat melalaikan sholat (Hadis no. 2)
-          Keutamaan mencari ilmu (Hadis no. 5)
-          Tanda-tanda kiamat sudah dekat (Hadis no. 16)
-          Amar ma’ruf dan nahyil munkar (hadis no. 20)
-          Ucapan ketika mendapat musibah (Hadis no. 27)
-          Ulama dan Umaro (Hadis no. 28)
-          Kedudukan ibu dan ayah (Hadis no. 32)
-          Dosa yang disegerakan siksaannya (hadis no. 34)
-          Do’a yang diijabah (Hadis no. 39)
-          Tawdlu (Hadis no. 40)
8.      Menyebutkan arti hadis tersebut dengan baik dan benar.

Level II
Kelas Tahsin
1.      Mampu membaca al Qur’an dengan lancar, baik dan benar.
2.      Mampu menulis surat al Fatihah dengan baik dan benar.
3.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Qur’an Surat berikut :
-          al Qori’ah
-          al ‘Adiyat,
-          al Zalzalah,
-          al Bayyinah,
-          al Qodr,
-          al ‘Alaq,
-          al Tin,
-          al Insyiroh,
-          al Dluha,
-          al Lail,
-          al Syams,
-          al Baladcdan
-          al Fajr
-          al Ghasyiah
-          al A’la
-          al Thoriq
dengan lancer, baik dan benar.
4.      Mampu mendeskripsikan kaidah hukum bacaan nun mati/tanwin dan mad far’iy.
5.      Mampu menyebutkan contoh hukum bacaan nun mati/tanwin dan mad far’iy
6.      Mampu menentukan hukum bacaan nun mati/tanwin dan mad far’iy.
7.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Hadis tentang berikut :
-          Akibat melalaikan sholat (Hadis no. 2)
-          Keutamaan mencari ilmu (Hadis no. 5)
-          Tanda-tanda kiamat sudah dekat (Hadis no. 16)
-          Amar ma’ruf dan nahyil munkar (hadis no. 20)
-          Ucapan ketika mendapat musibah (Hadis no. 27)
-          Ulama dan Umaro (Hadis no. 28)
-          Kedudukan ibu dan ayah (Hadis no. 32)
-          Dosa yang disegerakan siksaannya (hadis no. 34)
-          Do’a yang diijabah (Hadis no. 39)
-          Tawdlu (Hadis no. 40)
8.      Menyebutkan arti hadis tersebut dengan baik dan benar.

Level III
Kelas Tahfiz
1.      Mampu membaca al Qur’an dengan lancar, baik dan benar.
2.      Mampu menulis surat al Fatihah dengan baik dan benar.
3.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Qur’an juz 30 atau surat-surat lain pada  satu juz  tersebut yang sedang dimuroja'ah. Adapun surat-surat yang diujikan pada juz 30, sebagaimana disebutkan berikut :
-          al Buruj
-          al Insyiqoq,
-          al Muthafifin,
-          al Infithor,
-          al Takwir,
-          al Naziat
-          al Naba
dengan lancer, baik dan benar.
4.      Mampu mendeskripsikan kaidah hukum bacaan mim mati, jenis-jenis idgham, qalqalah, lam ta’rif dan tanda waqaf.
5.      Mampu menyebutkan contoh hukum bacaan mim mati, jenis-jenis idgham, qalqalah, lam ta’rif dan tanda waqaf.
6.      Mampu menentukan hukum bacaan mim mati, jenis-jenis idgham, qalqalah, lam ta’rif dan tanda waqaf.
7.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Hadis tentang berikut :
-          Akibat melalaikan sholat (Hadis no. 2)
-          Keutamaan mencari ilmu (Hadis no. 5)
-          Tanda-tanda kiamat sudah dekat (Hadis no. 16)
-          Amar ma’ruf dan nahyil munkar (hadis no. 20)
-          Ucapan ketika mendapat musibah (Hadis no. 27)
-          Ulama dan Umaro (Hadis no. 28)
-          Kedudukan ibu dan ayah (Hadis no. 32)
-          Dosa yang disegerakan siksaannya (hadis no. 34)
-          Do’a yang diijabah (Hadis no. 39)
-          Tawdlu (Hadis no. 40)
8.      Menyebutkan arti hadis tersebut dengan baik dan benar.

Majlis Munaqosah Lil Ijazah Tahfizul Qur’an
1.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Qur’an dengan lancar, baik dan benar.
2.      Mampu mendemonstrasikan hafalan Hadis tentang berikut :
-          Akibat melalaikan sholat (Hadis no. 2)
-          Keutamaan mencari ilmu (Hadis no. 5)
-          Tanda-tanda kiamat sudah dekat (Hadis no. 16)
-          Amar ma’ruf dan nahyil munkar (hadis no. 20)
-          Ucapan ketika mendapat musibah (Hadis no. 27)
-          Ulama dan Umaro (Hadis no. 28)
-          Kedudukan ibu dan ayah (Hadis no. 32)
-          Dosa yang disegerakan siksaannya (hadis no. 34)
-          Do’a yang diijabah (Hadis no. 39)
-          Tawdlu (Hadis no. 40)
3.      Menyebutkan arti hadis tersebut dengan baik dan benar.



B.   LEMBAR PENILAIAN UJIAN PRAKTIK
Rubrik Penilaian Unjuk Kerja
A.      Semua bacaan benar, sesuai dengan kaidah hukum bacaan tajwid dan penerapan naghomat yang mutqin
B.      Semua jawaban benar tetapi ada penerapan kaidah hukum bacaan tajwid yang tidak sesuai atau ada yang salah. Sedikit kesalahan dalam naghomat
C.      Ada bacaan yang benar dan sesuai dengan kaidah, dan ada naghomat tidak sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan.
D.      Semua bacaan salah, atau bacaan benar tetapi tidak dibawakan dengan kaidah dan naghomat yang benar
Kategori :
86 – 100         = Sangat Baik (Mumtaz)
76 – 85            = Baik (Jayyid)
60 – 75            = Cukup (Mutassuth)

< 60                 = Kurang (Rashib)


Sukabumi, 20 Februari 2019.
                                                                                              Co. CB,


                                                                                              Muliayawan Gumilar, S.Pd.I



Minggu, 10 Februari 2019

Materi Hadist Mutaba'ah "ايها الطلبة"

Kompetensi Dasar:
Berikut dikutip beberapa hadist dari buku mutaba'ah santri.
Diharapkan setelah proses pembelajaran berlangsung para santri memiliki kemampuan sebagai berikut :
1. Membaca dengan baik matan dan periwayatnya dengan baik.
2. Menyebutkan arti hadis teraebut dengan baik.
3. Menjelaskan makna secara um hadis tersebut dengan baik dan benar.
4. Menjelaskan isi kandungan hadis tersebut dengan baik dan benar


Navigate Graduate
Gb. 1

Hadis ke-2
Akibat Melalaikan Shalat 
(مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ اِلَّا بُعْدًا (الحديث
Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia hanya akan bertambah jauh dari Alloh (al Hadits)

Hadis ke-5
Mencari Ilmu
Kegiatan Kajian Kitab 
Para Santri SMA Pesantren Hayatan Thayyibah
Gb. 2

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka Alloh mudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim).
Hadis ke-16
Tanda-tanda Kiamat sudah Dekat
Malam gelap gulita
Gb. 3
بَادِرُوْا بِاْلاَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ فَسَتَكُوْنُ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِى الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الذَّنْبِ
 (رَوَاهُ اَحْمَدُ)
Bersegeralah kalian beramal salih, kelak akan ada berbagai fitnah seperti bahayanya malam yang gelap gulita seorang menjadi mukmin dan kafir dan ada kalanya kemarin kafirsekarang mukmin menjual agamanya dengan dosa. (H.R. Ahmad).

Hadis ke-20
Amar Ma’ruf dan Nahyi Munkar
مَنْ رَاَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَالِكَ اَضْعَفُ اْلاِيْمَانِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Barangsiapa yang meilaht kemunkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lidahnya, maka apabila tidak mampu (juga), maka dengan lidahnya (yakni diam saja) dan itulah iman yang paling lemah. (HR. Muslim).

Hadis ke-27
Ucapan Ketika Mendapat Musibah
وَاِنْ اَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ اَنَّنِيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا, وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَاِنْ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Apabila kamu mendapatkan musibah, janganlah engkau mengatakan : Andaikata saya berbuat begini, pasti begini-begini. Tetapi katakanlah : Telah ditakdirkan Alloh, apa yang Alloh kehendaki, Alloh membuatnya. Karena ucapan : “Andaikata, sekiranya “, itu membuka amalan setan(HR. Muslim).


Hadis ke-28

Ulama dan Penguasa

صِنْفَانِ مِنْ اُمَّتِىْ اِذَا صَلَحَا صَلَحَ النَّاسُ جَمِيْعًا وَاِذَافَسَدَا فَسَدَ النَّاسُ جَمِيْعًا اْلعُلَمَاءُ وَاْلاُمَرَاءُ 

(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dua golongan, jika baik keduanya, baik pula seluruh manusia, dan jika rusak, rusak pula seluruh manusia, yaitu : Ulama dan Penguasa.

(al-Hadis).

Hadis ke-32
Kedudukan Ibu dan Ayah

جَاءَرَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ مَنْ اَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِىْ؟ فَقَالَ:اُمُّكَ.ثُمَّ مَنْ؟قَالَ:اُمُّكَ,ثُمَّ مَنْ؟قَالَ:اُمُّكَ,ثُمَّ مَنْ؟قَالَ:اَبُوْكَ
(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Seorang laki-laki mengahadap Rasululloh saw., lalu berkata : Ya Rasululloh, siapakah yang paling berhak menjadi sahabatku? Beliau menjawab : Ibumu, sahabat itu bertanya lagi : Siapa lagi? Jawab beliau: Ibumu. Tanyanya lagi : Siapa lagi? Jawab beliau : Ibumu. Tanyanya lagi : Siapa lagi? Jawab beliau : Ibumu. Tanyanya lagi : Siapa lagi? Jawabnya : Bapakmu, (HR. Bukhori Muslim).

Hadis ke-34
Dosa yang Disegerakan Siksaaannya
كُلُّ الذُّنُوْبِ يُؤَخِّرُاللهُ تَعَالَى مَاشَاءَ مِنْهَا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ اِلَّا عُقُوْقَ اْلوَالِدَيْنِ فَاِنَّ اللهَ
تَعَالَى يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِى الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ (رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ)
Semua dosa akan Alloh Ta’ala tangguhkan mana saja Dia suka sampai hari kiamat ekcuali durhaka kepada  kedua orangtua. Maka sesungguhnya akan Alloh percepat balasan bagi yang durhaka kepadda mereka berdua dalam  hidupnya sebelum mati. (HR. Tobroni ).

Hadis ke-39
Do'a yang diijabah
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَاَباتٍ لَا شَكَّ فِـْيِهنَّ : دَعْوَةُ اْلوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ 
(رَوَاهُ اْلبُخَارِيْ)
Ada tiga doa tidak ragu lagi yang tidak akan ditolak, yakni doa orang tua kepada anaknya, doa musafir dalam perjalanan dan doa orang teraniaya. (HR. Bukhariy).

Hadis ke-40
Tawadlu
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَاللهُ عَبْدًابِعَفْوٍاِلَّاعِزًّا وَمَاتَوَاضَعَ اَحَدٌ لِلَّهِ اِلَّا رَفَعَهُ اللهُ 
(رَوَاهُ َمُسْلِمٌ)

Tidak akan berkurang harta karena disedekahkan, dan tidak akan Alloh tambah kepada orang yang memaafkan melainkan keperkasaan dan tidak ada yang tawadlu karena Alloh melainkan ia akan dimuliakan (HR. Muslim).


Firqoh CB Triwulan Pertama Semester Genap
Dowload di sini!
_rodenstockgumilar.blogspot.com_

Peringatan Hari Batik Nasional dan Sejarahnya

 Alasan Adanya Peringatan Hari Batik Nasional Seperti dilansir dari berbagai sumber bahwa batik merupakan salah satu warisan budaya tak bend...